al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf
Rabu, April 03, 2013
Al-Allamah Al-Arifbillah
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf lahir di Seiyun, Hadramaut pada tahun 1331
H / 1911 M. Sekarang beliau tinggal di Jeddah, Arab Saudi dan saat ini menjadi
rujukan pentung bagi kaum Ahlussunnah Waljamaah.
Nasab beliau
yang mulia
Beliau adalah
Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Umar bin
Saqqaf bin Muhammad bin ‘Umar bin Thoha as-Saqqaf. dan terus
bersambung nasabnya hingga sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Kelahiran
beliau
Beliu
dilahirkan di kota Sewun, Hadramaut, pada bulan Jumadil Akhir Tahun 1331
H. Beliau dibesarkan oleh kedua orangtuanya yang sholeh sehingga sejak
kecil beliau telah dihiasi dengan hidayah dan ketakwaan.
Kedua orangtua
beliau
Ayah beliau,
Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assaggaf, adalah seorang imam yang dihiasi
dengan keindahan budi pekerti yang luhur ilmu yang luas dan amal yang
soleh. Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi pernah
berkata bahwa
Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman adalah Imam Wadil Ahqof (Hadramaut).
Ibu beliau
adalah As-Syarifah Alawiyah binti Al-Habib Ahmad bin Muhammad Aljufri.
Beliau adalah seorang wanita yang sholihah dan suka pada kebajikan. Ketika
ibu beliau sedang mengandung dan melahirkan bayi laki-laki, bayi tersebut
diberi nama Abdul Qodir atas isyarat dari Al-Habib Ali bin Muhammad
Alhabsyi, tetapi tidak lama kemudian bayi tersebut meniggal dunia. Ketika
As-Syarifah Alawiyah melahirkan bayi laki-laki untuk yang kedua kalinya,
Al-Habib Ali juga mengisyaratkan agar bayi tersebut diberi nama Abdul
Qodir. Al-Habib
Ali mengatakan
bahwa bayi ini kelak akan menjadi orang yang mulia yang mengabdikan
hidupnya untuk taat kepada Allah dan menjadi seorang yang
dihiasi dengan
ilmu, amal dan ihsan.
As-Syarifah
Alawiyah meninggal dunia pada tanggal 29 Rajab 1378 H bersamaan dengan
hari wafatnya Al-Habib Salim bin Hafidh Bin Syekh
Abubakar bin
Salim (kakek dari Al-Habib Umar Bin Hafidh). Sedangkan Al-Habib Ahmad
(ayah dari Al-Habib Abdul Qodir) meninggal dunia pada
sore hari,
Sabtu, tanggal 4 Muharram 1357 H, setelah menunaikan shalat ashar pada
usia 79 tahun, sedangkan Al-Habib Abdul Qodir saat itu baru
berusia 25
tahun.
Ayahandanya,
Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, seorang ulama terkemuka di Hadramaut, yang
kemudian menggantikan kedudukan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, setelah
penyusun Simtud Duror itu wafat. Sedangkan ibundanya, Syarifah Alwiyah binti
Ahmad Aljufri, wanita salihah yang dermawan.
Masa kecil
beliau
Sejak kecil
beliau tumbuh berkembang dalam lingkungan ilmu pengetahuan, ibadah dan
akhlak yang tinggi yang ditanamkan dan sekaligus icontohkan oleh ayah
beliau yang sholeh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assaggaf. Dan memang
demikianlah keadaan kebanyakan keluarga-keluarga Alawiyin di Hadramaut
pada masa itu. Keadaan ini sangat mendukung para orangtua untuk mencetak
kader-kader ulama dan shulaha’ (orang-orang baik) karena anak-anak disana
pada masa itu selain dididik oleh orang tua, lingkungan juga ikut
membentuk mereka.
Keikhlasan dan
kebersihan hati menjadi hiasan penduduk disana kala itu. Mereka tidak
terkontaminasi dengan budaya dan berbagai macam paham dari luar . Setiap
anak meneladani ayahnya dan ayah meneladani kakeknya. Demikianlah
seterusnya sehingga asror mereka terwariskan kepada anak cucunya.
Ketika usia
Al-Habib Abdul Qodir sudah cukup dan telah tampak kesungguhan niat beliau
dalam menuntut ilmu, maka beliau mulai mengikuti pendidikan di luar rumah,
karena selama ini beliau hanya belajar dengan ayahnya. Pertama kali beliau
mengenyam pendidikan di `Ulmah Thoha, yaitu sebuah pendidikan yang
diadakan di masjid Toha yang didirikan oleh datuknya Al-Habib Thoha bin
Umar Assagaf di kota Sewun. Adapun guru yang mengajar beliau di tempat
tersebut adalah As-Syaikh Thoha bin Abdullah Bahmed. ‘Ulmah Thoha adalah
sebuah lembaga pendidikan sederhana yang didirikan atas dasar takwa
dan keridhoan Allah, oleh karena itu tempat tersebut telah banyak mencetak orang-orang
besar dan tokoh-tokoh ulama pada zaman itu. Di tempat itulah Al-Habib
Abdul Qodir bersama anak-anak sebayanya tekun mendalami ilmu qowaidul
kitabah, qiroah dan lain-lain, sehingga menjadi kuat dasar-dasar
pengetahuannya serta fasih lisannya.
Setelah
beberapa waktu kemudian beliau keluar dari ‘Ulmah Thoha dan mencurahkan
waktunya untuk lebih banyak duduk dan menimbah ilmu dari
ayahnya,
sehingga tampak tanda-tanda kemuliaan pada diri beliau. Kemudian atas
perintah ayahnya beliau melanjutkan pendidikannya di madrasah An-Nahdhoh
Al-`ilmiyah di kota Sewun. Setelah itu, beliau belajar fiqih, tafsir dan
sastra di Madrasah An-Nahdlatul Ilmiyah. Di perguruan ini pula beliau menghafal
Al-Qur'an dan mempelajari Qiraah sab'ah ( tujuh jenis bacaan ) Al-Qur'an dari
Syekh Hasan bin Abdullah Baraja, beliau juga membaca beberapa kitab langsung di
bawah supervisi ayahandanya.
Tapi beliau
juga berguru kepada sejumlah ulama besar lainnya, Antara lain :
• Habib Umar
bin Hamid Assegaf
• Habib Umar
bin Abdul Qadir Assegaf
• Habib
Abdullah bin Alwi Al-Habsyi
• Habib
Abdullah bin Idrus Alaydrus
• Habib
Abdulbari bin Syekh Alaydrus
• Habib Alwi
bin Abdullah bin Syahab
Sepeninggal
ayahnya
Setelah ayah
beliau, Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman, yang meninggal dunia pada tahun
1357 H, maka para masyayikh dan tokoh Alawiyyin saat
itu sepakat
bahwa beliaulah penerus sang ayah, karena semua kebaikan yang ada pada
diri Al-Habib Ahmad telah diwarisi oleh Al-Habib Abdul
Qodir. Saat itu
beliau telah berusia 25 tahun. Semenjak itu, Al-Habib Abdul Qodir
meneruskan apa-apa yang menjadi kebiasaan ayahnya.
Sebagaimana
ayahnya, Al-Habib Abdul Qodir mengisi waktunya dengan belajar dan
mengajar, serta menunaikan segala kewajiban. Beliau selalu mengumbar
senyum kepada siapa saja yang ditemuinya. Beliau suka menerima tamu dan
membantu yang lemah dengan kemampuan yang dimilikinya. Diterangkan dalam
kitab At-Takhlis Asy-Syafi, bahwa rumahnya adalah tumpuan para tamu dan
beliau tidak pernah membedakan tamu-tamunya. Hampir-hampir terkesan
beliaulah satu-satunya orang di kota Sewun yang memuliakan tamu dan gemar
membantu orang-orang yang lemah kala itu. Selain itu beliau juga selalu
menjaga hubungan silaturrahmi.
Karena
ketinggian akhlak beliau itulah, menjadikan semua mata tertuju kepada
Al-Habib Abdul Qodir, sehingga banyak orang ingin menimba ilmu
darinya. Dimana
saja beliau mengajar atau mengisi pengajian, tempat tersebut penuh sesak
oleh para hadirin. Setiap apa-apa yang beliau ucapkan, selalu menyentuh
hati para pendengarnya.
Di
tengah-tengah kesibukannya, Al-Habib Abdul Qodir menyempatkan diri duduk
dengan para orangtua, ulama dan para pendidik, untuk membicarakan berbagai
macam hal, baik keilmuan ataupun yang lainnya, serta menjalin rasa kasih
sayang di antara mereka.
Di rumah beliau
terdapat sebuah perpustakaan yang lengkap dan semua kitab tersebut telah
dibaca oleh Al-Habib Abdul Qodir di hadapan ayahnya. Semasa hidup ayah
beliau, Al-Habib Ahmad, jika mendengar atau melihat sebuah kitab dan kitab
tersebut tidak ada dalam perpustakaannya, maka Al-Habib Ahmad menyuruh
putranya, Al-Habib Abdul Qodir, untuk membaca dan mencatatnya, dan
kemudian disimpan diperpustakaannya itu.
Sebagaimana
ayah beliau sewaktu mudanya, Al-Habib Abdul Qodir suka membaca buku-buku
sastra, sehingga menjadikan beliau seorang yang pandai membuat
syair.
Hijrahnya dari
Hadramaut
Suatu saat
terjadi perubahan negatif pada pemerintahan Yaman Selatan dimana mereka
membuat kebijakan-kebijakan dan upaya untuk menghapus
tradisi leluhur
dan juga melakukan penekanan terhadap ulama. Para tokoh masyarakat
diwajibkan melaporkan diri ke kepolisian 2 kali setiap hari saat pagi dan
sore. Tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Kenyataan pahit ini
mendorong banyak para tokoh ulama disana, di antaranya Al-Habib Abdul
Qodir, untuk meninggalkan Yaman demi menyelamatkan agama dan budaya
leluhurnya.
Dengan dibantu
oleh seseorang yang dekat dengan pemerintahan, beliau mendapat izin untuk
berhijrah ke kota Aden pada tahun 1393 H. Disana
beliau
mendapatkan sambutan yang luar biasa. Tampak kegembiraan masyarakat Aden
dengan kedatangan beliau. Di tengah-tengah kesibukannya berdakwah dan
menghadiri majlis-majlis di kota Aden, beliau berupaya untuk berhijrah
dari Yaman. Dengan ridho dan pertolongan Allah SWT, sebulan setelah
kedatangannya di kota Aden, beliau berangkat menuju Singapura.
Di bandara
Singapura, beliau disambut oleh banyak orang dan para tokoh Alawiyin saat
itu, di antaranya adalah Al-Habib Muhammad bin Salim Al-Atthas dan
As-Sayyid Ali Ridho bin Abubakar bin Thoha Assaggaf. Berbagai majlis
diselenggarakan untuk menyambut kedatangan Al-Habib Abdul Qodir. Bahkan
rumah tempat beliau tinggal penuh sesak oleh tamu yang ingin mengambil
berkah dan menimbah ilmu dari beliau.
Pada tahun 1393
H / 1973 M beliau memutuskan memperluas medan dakwahnya ke luar negeri. Maka
beliau pun berdakwah sampai ke Singapura.
Pada bulan Juli
1974 M/1393 H, Al-Habib Abdul Qodir meninggalkan Singapura menuju Jakarta.
Di Indonesia beliau juga mendapat sambutan yang hangat dari para ulama dan
masyarakat di Jakarta. Tokoh Alawiyin yang mendampingi kunjungan beliau di
Jakarta antara lain As-Sayyid Salim bin Muhammad Al-Aidrus, Al-Habib
Muhammad bin Umar Maulakheilah, Al-Habib Muhammad bin Ali Alhabsyi
(Kwitang), As-Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Jawwas, As-Sayyid
Abdurrahman bin Ahmad Assaggaf, Al-Ustadz Hadi bin Sa’id Jawwas, dan
lain-lain. Al-Habib Abdul Qodir menghadiri majlis taklim Al-Habib Ali bin
Abdurrahman Alhabsyi yang diadakan setiap hari Minggu pagi di Kwitang dan
berbagai majlis lainnya di Jakarta.
Pada tanggal 13
Jumadil Tsani 1393 H/Agustus 1974 M, Al-Habib Abdul Qodir berkunjung ke
Surabaya. Di Surabaya beliau tinggal di rumah Al-Ustadz Ahmad bin Hasan
Assaggaf di Jalan Sambas no. 3. Al-Ustadz Ahmad mengurus segala keperluan
dan perjalanan Al-Habib Abdul Qodir ke berbagai kota di Jawa Timur. Selama
Al-Habib Abdul Qodir di Surabaya, rumah Al-Ustadz Ahmad penuh dengan tamu
yang datang dari berbagai kota. Al-Ustadz Ahmad melayani mereka dengan
penuh sabar dan tulus, bahkan menyediakan kendaraan bagi para tetamu yang
ingin ikut mengiringi perjalanan Al-Habib Abdul Qodir.
Di setiap
tempat yang dikunjungi, Al-Habib Abdul Qodir tidak hanya berdakwah, namun
menaruh perhatian besar pada keadaan kaum Alawiyin.
Setiap kota
yang dimasuki, yang pertama ditanyakan oleh beliau adalah bagaimana
keadaan Alawiyyin. Jika ada yang sakit, beliau mengunjunginya. Yang faqir,
beliau santuni. Yang berselisih, beliau damaikan. Demikianlah aktivitas
beliau sepanjang hidupnya, dimana saja beliau berada hingga akhir
hayatnya.
Pada tahun yang
sama, Al-Habib Abdul Qodir berhijrah dari Indonesia menuju Hijaz.
Berbondong-bondong khalayak melepas kepergian beliau dengan penuh
kesedihan dan air mata. Mereka menginginkan Al-Habib Abdul Qodir tetap
tinggal di Indonesia. Demikian dalam kesedihan mereka hingga Al-Habib
Abdul Qodir menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa beliau akan datang
berkunjung kembali ke Indonesia setelah beliau berziarah dan mengungkapkan
masalah yang dihadapinya kepada Nabi SAW di kota Madinah. Tak lama
kemudian beliau juga sempat menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Atas permintaan
beberapa ulama di Tanah suci, beliau bermukim selama beberapa waktu di Mekah,
Madinah dan Jeddah untuk mengasuh majlis taklim. Beliau juga sempat berdakwah
ke Zanzibar, Lebanon , Syria dan Mesir. Tapi belakangan beliau menetap di
Jeddah.
Setiap kali
beliau menyampaikan tausiah, selalu ada hal yang menarik. Misalnya ketika
memberikan tausiah dalam sebuah rauhah, pengajian, di Jeddah pada 1411 H / 1990
M, " Yang banyak menimpa manusia pada zaman akhir ini ialah Futurul Himah
( kevakuman hasrat ) dalam mencapai kemuliaan di sisi Allah swt." Ujarnya.
Menurutnya,
sesungguhnya himmah, kesungguhan hasrat, merupakan penuntun lahirnya taufik
Ilahi, pertolongan Allah swt bagi hamba-Nya agar mampu melaksanakan ketaatan,
sebagai pos bisyarah, kabar gembira. Jika seseorang memiliki keinginan, lalu
bersungguh-sungguh mencapainya, segala kesulitan akan menjadi mudah. Allah swt
pun akan menolong dengan maunah, pertolongan dan taufik-Nya.
Menurut Habib
Abdul Qadir yang kini semakin melemah adalah kekuatan keimanan kita. "
Kebanyakan orang sekarang merasa berat bangun malam, lebih suka
bermalas-malasan, ini semua jelas akibat bujuk rayu setan." Katanya.
Kini, tokoh
Ahlus sunnah Wal Jamaah yang langka ini menjadi semacam azimat bagi kalangan
Habaib dan Muhibin di Tanah air maupun di negeri-negeri islam lainnya.
(No 07 / Tahun
III / 28 Maret – 10 April 2005 &No.15/ Tahun V / 16-29 Juli 2007)
Kepergian Al
Allamah Al Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Asseqaf pada Ahad 19 Rabi’ul Akhir 1431
H dini hari, bersamaan 4 April 2010 M, membawa berita yang teramat sedih kepada
keluarga besar ‘Alawiyyin dan para Muhibbin khususnya dan kaum Muslimin
umumnya. Beliau kembali ke rahmatullah sebelum waktu Fajar di Jeddah, Arab
Saudi.
Guru-guru
beliau
Al-Habib Abdul
Qodir menimbah ilmu dari banyak guru. Setiap berkunjung ke suatu tempat,
beliau menyempatkan diri untuk menggali ilmu dari
para ulama dan
orang-orang sholeh di tempat tersebut. Di antara guru beliau adalah
Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assaggaf (ayah beliau),
Al-Habib Umar
bin Hamid bin Umar Assaggaf, Al-Habib Umar bin Abdul Qodir bin Ahmad
Assaggaf, Al-Habib Abdul Bari bin Syaikh Al-Aidrus,
Al-Habib
Muhammad bin Hadi Assaggaf, Al-Habib Sholeh bin Muhsin Alhamid (Tanggul),
Al-Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aidrus, dan lain-lain.
Murid-murid
beliau
Di antara para
murid beliau adalah Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alhaddar, Al-Habib Zein
bin Ibrahim Bin Sumaith, Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar
Asy-Syathiry, Al-Habib Abubakar Al-’Adany bin Ali Al-Masyhur, As-Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki ِAl-Habib Abubakar bin Hasan Al-Atthas dan masih banyak lagi yang lainnya
yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Diantara
Teman-teman beliau yang telah pergi mendahului beliau, Adalah, Al-Habib Ahmad
Masyhur bin Thoha al-Haddad. Al-Habib ‘Abdurrahman bin Ahmad al-Kaf. Al-Habib
Abu Bakar Atthas bin Abdullah al-Habsyi. Syeikh Umar Khatib.
Habib Abdul
Qadir adalah seorang ulama dan dai yang menjalankan dakwahnya dengan penuh
kebijaksanaan. Akhlaknya yang tinggi mampu menawan hati sesiapa saja, ilmu,
wara’ dan akhlaknya menyebabkan beliau dikasihi dan dihormati. Kabarnya Buya
Hamka pernah ziarah kepada beliau sewaktu di Jeddah, dan setelah berbincang
dengan beliau, akhirnya Buya Hamka mengakui bahwa Baitun Nubuwwah Bani Zahra
min Ali masih wujud dan berkesinambungan dalam darah para saadah Bani ‘Alawiy.
Beliau telah
lama uzur. Dan sebelum Fajar hari Ahad, 19 Rabi ’al-Akhir 1431 H bersamaan 4
April 2010, beliau kembali ke Rahmatullah di Jeddah. Beliau menutup umur pada usia
100 tahun. Dan Dishalatkan di Masjidil Haram Makkah selepas shalat Isya, Ahad 4
April 2010.
Selamat jalan
wahai Habib Abdul Qodir. Semoga keselamatan, kesejahtraan, rahmat Allah
dan ridhoNya selalu menyertaimu. Semoga Allah SWT membalas semua pengorbananmu
untuk Alawiyyin dan kaum muslimin.
Di bawah ini adalah foto-foto al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf :
.jpg?height=320&width=225)




mantab
BalasHapus